Pihak Uni Eropa menggelar sidang darurat, pada hari Senin di Brussels, Belgia, dengan agenda utama membahas krisis politik di Mesir.
Para pejabat Uni Eropa akan mempertimbangkan pemotongan atau membekukan bantuan dana pada Mesir yang sebelumnya telah dijanjikan.
Uni Eropa merupakan badan internasional yang selama ini dikenal sebagai pemberi bantuan non militer terbesar untuk Mesir.
Pada hari Minggu (18/8/2013), Presiden Komisi Eropa dan Dewan Eropa, dalam sebuah pernyataan bersama yang jarang terjadi, menyerukan segera diakhirinya kekerasan berdarah di Mesir.
Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso dan Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy mengatakan, Uni Eropa "akan segera meninjau sejumlah bantuan kepada Mesir dalam beberapa hari mendatang".
Mereka juga menyatakan penyesalannya, bahwa upaya internasional untuk menemukan cara damai dalam menyelesaikan krisis di Mesir tidak dilakukan.
Dalam kesimpulannya, Uni Eropa menyatakan pula bahwa: "Aksi kekerasan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan. Karenanya, sangat penting bahwa kekerasan harus segera berakhir..."
Kelompok Ikhwanul Muslimin, yang merupakan pendukung setia Presiden Muhammad Mursi yang digulingkan, telah menyerukan aksi demonstrasi setiap hari sejak pasukan keamanan membongkar paksa kamp mereka di Kairo pada Rabu lalu dan mengumumkan keadaan darurat.
Lebih dari 600 orang tewas selama operasi keamanan, termasuk dari pihak aparat keamanan, dan setidaknya 173 tewas pada Jumat selama "hari kemarahan" yang digelorakan oleh pendukung Muhammed Mursi.(inpil/auw)






0 comments:
Post a Comment